Danau Rana Mese di Manggarai

Panoramanya indah, udaranya relatif dingin hingga bersuhu 14 derajat celsius, dikelilingi hutan lebat dan subur. Danau Ranamese, yang terletak di Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi obyek wisata alam yang amat menarik dan sayang apabila dilewatkan begitu saja.

Danau yang memiliki luas sekitar lima hektar (ha), kedalaman 43 meter, dan berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu adalah bagian dari Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng. TWA seluas 32.245,60 ha itu dikelola oleh Unit Konservasi Sumber Daya Alam (UKSDA) NTT II.

Danau Ranamese lebih dekat ditempuh dari Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores, yaitu sekitar 25 kilometer (km) dengan waktu tempuh 30 menit. Adapun jika ditempuh melalui Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur, jaraknya lebih kurang 35 km.

Danau Ranamese termasuk danau vulkanik. Sebelumnya, danau ini berupa kawah gunung yang tertutup air sehingga bagian tepi danau curam. Danau ini juga serupa dengan danau triwana Kelimutu yang terbentuk dari kawah Gunung Kelimutu (1.690 mdpl) di Kabupaten Ende, Flores, yang fenomenal itu.

Ketika Kompas mengunjungi danau ini, Rabu (6/4) sekitar pukul 10.30 Wita, suasana amat hening. Permukaan air danau yang sangat tenang dan berwarna khas hijau itu mulai diselimuti kabut. Hutan di sekelilingnya memancarkan nuansa keteduhan.

Tidak ada wisatawan saat itu. Hanya ada beberapa warga sekitar danau yang sedang memancing ikan nila dengan rakit kayu sederhana.

Danau Ranamese berada di Desa Golo Loni, Kecamatan Borong, Manggarai Timur, tepat di kawasan hutan yang lebat. Danau ini diapit Gunung Mandosawu (2.400 mdpl)—yang merupakan puncak gunung tertinggi dalam mata rantai pegunungan Ruteng—dan Gunung Ranaka (2.140 mdpl), yang merupakan puncak tertinggi kedua setelah Mandosawu.

Itu sebabnya danau ini ibarat sebuah permata ketenteraman yang tersembunyi di tengah hutan. Letaknya jauh dari permukiman, udaranya sangat bersih, sehingga danau ini layak menjadi alternatif penting bagi siapa saja, terutama yang ingin berlibur atau berwisata mencari ketenangan jiwa.

”Salah satu keunggulan dan keunikan Danau Ranamese adalah suasananya yang tenang dan hutannya masih asri karena memang letaknya jauh dari permukiman,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai Timur Wilhelmus Deo.

Kondisi air Danau Ranamese pun masih sangat jernih sehingga digunakan sebagai sumber air minum bagi masyarakat setempat, bahkan bagi warga Kota Borong.

Penghuni danau

Danau Ranamese dengan lingkungannya yang masih asri ini menjadi daya tarik bagi bermacam binatang. Ada burung migran, seperti itik air atau belibis (Anas querquedula) dan pecuk (Phalacroraxidae). Di dalam danau juga ada keragaman ikan air tawar, udang, dan belut.

Keberadaan belut di Danau Ranamese tak lepas dari legenda yang berkembang di warga setempat. Konon pada zaman dahulu diyakini ada dua danau yang dihuni makhluk halus, yaitu Danau Ranamese (danau kecil) dan Danau Ranahenbok (danau besar) yang terletak di Golorutuk.

Suatu ketika, penghuni Danau Ranamese dan Danau Ranahenbok berperang. Penghuni Ranamese pun minta bantuan manusia karena nyaris kalah.

Pasukan manusia menang dengan mudah karena senjata yang digunakan Ranahenbok adalah belut (dalam pandangan makhluk halus adalah tombak). Manusia menebas belut itu dengan parang. Kekalahan penghuni Danau Ranahenbok dibayar dengan menukar Danau Ranamese menjadi lebih luas. Legenda itu dipercaya dan diyakini hingga saat ini dan manusia dalam legenda ini diyakini merupakan leluhur warga Golo Loni.

Minim fasilitas

Sebagai obyek wisata, tidak terlihat fasilitas pendukung di area Danau Ranamese. Tidak ada kios makanan, kios suvenir, perahu untuk berkeliling mengitari danau, atau peralatan memancing.

”Pemerintah daerah belum membangun fasilitas sampai sekarang. Kalau sudah dibangun, warga sekitar tentu bisa merasakan manfaat ekonomi,” kata Tua Golo (Ketua Adat) Kampung Lerang, Petrus Sap.

Wilhelmus Deo mengakui, sampai saat ini Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur belum dapat mengelola Danau Ranamese karena harus mendapat izin menteri kehutanan. ”Kami merencanakan membangun tempat pertemuan, juga anjungan, di Danau Ranamese, tetapi harus meminta izin menteri kehutanan melalui UKSDA NTT II. Mesti dibuat nota kesepahaman dulu,” tutur Wilhelmus.

Padahal, jika pemerintah serius menggarap pariwisata di Danau Ranamese, banyak hal yang bisa dijual. Selain pesona danau, ada pula ritual khas masyarakat Golo Loni, yaitu penti (upacara syukur atas hasil panen). Dalam ritual yang biasa digelar pada Agustus atau September.

Pesona ranaka

Masih dalam kawasan Danau Ranamese, pengunjung juga dapat menikmati petualangan menuju ke puncak Gunung Ranaka dan Anak Ranaka yang terbentuk tahun 1987. Lokasi itu dapat ditempuh dengan kendaraan selama sekitar 15 menit dari Danau Ranamese.

Dari pintu masuk menuju puncak gunung di Robo, Desa Ranaka, Kecamatan Poco Ranaka, perjalanan ke puncak berjarak 9 km. Setelah menanjak sejauh 6 km, Gunung Anak Ranaka sudah terlihat jelas. Lebih jauh ke puncak, wisatawan dapat melihat panorama alam pantai utara dan pantai selatan Kabupaten Manggarai.

Masih di sekitar kilometer enam, ada sebuah danau kecil. Masyarakat setempat juga meyakini ada danau misterius di kawasan Gunung Ranaka yang bernama Danau Ranaka. Dalam bahasa setempat, rana artinya danau, dan ka adalah burung sejenis gagak. Dulu, di kawasan itu banyak burung gagak, tetapi kini sudah amat jarang. Jadi, danau Ranaka merupakan danau tempat mandi burung gagak.

”Namun, danau yang ada di KM 6 itu bukan Danau Ranaka yang dimaksud sebab diyakini hanya orang tertentu atau paranormal saja yang dapat mengetahui dan melihat posisi Danau Ranaka,” kata Bernadus Taut, petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Ranaka.

Bernadus turut mendampingi Kompas dengan sepeda motor mengunjungi puncak Gunung Ranaka. Perjalanan terhenti beberapa kali karena Bernadus harus membuka jalan dengan parang. Jalan aspal ke puncak itu banyak yang tertutup kerinyu dan jalan pun licin karena berlumut.

Saat perjalanan baru mencapai dua kilometer, batu besar yang runtuh dari tebing sudah menghalangi jalan. Selain itu, terdapat atap shelter dari ijuk yang roboh, juga satu pohon besar tumbang melintang di tengah jalan. Seolah tidak ada pemeliharaan yang baik terhadap aset pariwisata ini.

Kepala UKSDA NTT II di Ruteng Suprihatna menjelaskan, petugas bersama warga setempat biasa membersihkan jalan menuju puncak Gunung Ranaka. Akan tetapi, kegiatan itu tidak rutin dilakukan. Terakhir, kerja bakti dilakukan pada Februari 2011.

”Kami tidak bisa bekerja bakti secara rutin karena keterbatasan personel dan anggaran operasional,” ujar Suprihatna. Sementara curah hujan yang tinggi menyebabkan tanaman seperti kerinyu cepat tumbuh.

Suprihatna menambahkan, dalam upaya pengembangan Danau Ranamese dan obyek lain dalam lingkup UKSDA NTT II, pihaknya membuka kesempatan seluas-luasnya, baik terhadap Pemkab Manggarai Timur maupun swasta dengan mengajukan izin ke Kementerian Kehutanan.

Danau Ranamese dengan pesonanya yang begitu memikat memang sangat disayangkan jika belum dikelola secara optimal. Padahal, seandainya fasilitas memadai, wisatawan dapat tinggal lebih lama di danau yang memancarkan nuansa ketenteraman tersebut, termasuk Pulau Flores. Saatnya pemerintah mulai menyiramkan ”gula”.